Select Menu

Headline

Politik

Metro

Hukrim

Peristiwa

Video

Religi

Alumni SMPN 1 Sabbang Pilih Reuni di Permandian Air Terjun Sarambualla

Alumni SMPN 1 Sabbang Pilih Reuni di Permandian Air Terjun Sarambualla
SABBANG, TEKAPE.co - Tak seperti kebanyakan reuni, alumni 2010 SMP Negeri 1 Sabbang Kabupaten Luwu Utara, memilih untuk reuni di wisata alam Permandian Air Terjun Sarambualla, Desa Kalotok, Kecamatan Sabbang, Sabtu 1 Juli 2017.

Ketua Panitia, Nahrul, menuturkan, pihaknya senggaja melakukan reuni disana, agar berbeda dengan yang lain. Selain melepas kangen, sekaligus juga melepas penat.

"Di samping kita bersilahturrahmi dengan teman lama, juga memperkenalkan kepada teman alumni keindahan alam dan jernihnya air terjun Sarambuallah, yang merupakan objek bisa bagian selatan Kabupaten Luwu Utara," ujarnya.

Selain melakukan reuni, mereka juga melakukan bakti sosial berupa pembersihan sampah di lokasi permandian. (jsm)

Intip Tenun Khas Rongkong Lutra yang Dikeramatkan

Intip Tenun Khas Rongkong Lutra yang Dikeramatkan
RONGKONG, TEKAPE.co - Tanah Rongkong, punya banyak daya tarik. Selain keindahan alamnya yang memesona, kecamatan yang tertinggal di Kabupaten Luwu Utara, Sulsel, ini juga dikenal punya budaya yang unik.

Rongkong berjuluk Tana Masakke ini, punya kain tenun warisan yang dikeramatkan dan disimpan selama berabad-abad. Kain tenunan hanya dikeluarkan pada waktu-waktu khusus.

Kain tenun ini biasanya dipaka untuk menghiasi upacara adat, dikenakan pendeta dari kepercayaan kuno dan para sesepuh, atau mendandani penari-penari yang menarikan tarian sakral, serta untuk menutupi jasad orang yang dihormati.

Sakralisasi terhadap warisan budaya semacam itu, juga dapat ditemui pada tenunan asal Rongkong, yang dikenal dengan nama 'kain roto' dan tenun ikat.

Kepala Desa Limbong, Tandi Sule, Sabtu 3 Juni, menjelaskan, penenun kain Roto kini hampir punah. Bisa dihitung jari. Penenunnya kini hanya ada di Kampung Salu Rante Rongkong dan di Salu Bulo Kota Palopo.

Ia menyebut, tenun ikat terdiri beberapa jenis. Antara lain Pori Lonjong, Pori Situtu', Sora' Langi', Tali Tau Batu, Rindun Lolodan Luna.

Tenun ikat juga diproduksi dalam berbagai jenis penggunaan. Misalnya, kain kafan, seremonial, rok wanita, syal, penutup kepala untuk upacara, dan menjadi pusaka keramat.

Kain Batik Rongkong sudah menjadi batik khas Pemerintah Kabupaten Luwu. (jsm)

Tak Sempat ke Bali? Eksotisme Pemandangan Ubud Juga Bisa Dinikmati di Rongkong Luwu Utara

Tak Sempat ke Bali? Eksotisme Pemandangan Ubud Juga Bisa Dinikmati di Rongkong Luwu Utara
Pemandangan di Rongkong, Luwu Utara. 
RONGKONG, TEKAPE.co - Jika di Pulau Bali ada destinasi agro wisata Ubud, di Desa Tegalalang, yang memanjakan para pelancong pemandangan persawahan penduduk setempat yang bertingkat-tingkat, atau terasering, maka di Rongkong, Luwu Utara, Sulsel, juga ada.

Warga Luwu Raya atau Sulawesi Selatan, sebetulnya tak perlu jauh-jauh ke Bali untuk melihat pemandangan yang tak kalah indahnya. Sebab di Kecamatan Rongkong Kabupaten Luwu Utara, anda akan menemui pemandangan yang eksotik serupa di Ubud Bali.

Persawahan model sengkedan layaknya di Ubud, bisa dijumpai hampir di semua desa di Rongkong, salah satunya di Desa Rinding Allo. Di kampung yang berjarak 64 kilometer dari Kota Masamba ini, mata anda akan dimanjakan dengan keelokan alamnya.

Meski berada di pelosok, tempat ini tetap bisa dijangkau menggunakan kendaraan roda dua dan roda empat. Berada di pegunungan dengan iklim tropis yang berhawa dingin, Rinding Allo  bisa disebut sebagai 'negeri' berselimut kabut, karena hampir sepanjang hari gumpalan kabut menutupi wilayah ini, yang diberi nama 'Surga di Balik Gunung.'

Dari keterangan warga desa setempat Jahir, jika perkampungan di Dusun Manganan sering disebut kampung hilang karena tak terlihat ketika diselimuti kabut.

Saat kabut menyelimuti kampung ini, jarak pandang hanya bisa mencapai sekitar lima meter. Suhu udara di dusun ini cukup dingin berkisar 19-20 derajat celcius dan berada di ketinggian 1.600 mdpl.

Di Rinding Allo, anda juga dapat menjumpai Anoa, hewan endemik Sulawesi, yang kini makin langka keberadaannya. Tercatat, berdasarkan data yang dirilis IUCN (International Union for the Conservation of Nature and Natural Resources), jumlahnya saat ini kurang dari 2500 ekor.

Hewan yang bernama latin Bubalus quarlesi ini sungguh susah ditemui. Anoa dikenal agresif dan sulit dijinakkan. Namun di Rinding Allo, ada dua Anoa ekor berusia 2 tahun yang sudah ditangkarkan oleh warga setempat.

Rongkong, Desa Rinding Allo  dinobatkan  sebagai wilayah ekowisata di Luwu Utara 'Surga Dibalik Gunung.' Pemandangan alam yang indah serta budaya dan adat istiadat warga di desa tersebut akan menjadi daya tarik bagi mereka yang mengunjunginya 'Tana Masakke' ini. (jsm)

Jelang Ramadan, Air Terjun Sarambualla Lutra Ramai Dikunjungi

Jelang Ramadan, Air Terjun Sarambualla Lutra Ramai Dikunjungi
MASAMBA, TEKAPE.co - Jelang memasuki bulan suci Ramadan, objek Wisata Air Terjun Sarambualla di Dusun Tonangka, Desa Kalotok, Kecamatan Sabbang, Kabupaten Luwu Utara, Sulsel, ramai dikunjungi warga dari berbagai daerah, Kamis 25 Mei 2017.

Pengunjung wisata air terjun dengan ketinggian 20 meter ini, didominasi wisatawan lokal.

Wisata ini menjadi primadona. Selain alamnya masih asri, juga menyediakan aneka buah pada musimnya seperti durian, langsat, dan rambutan.

Akses menuju ke Sarambu Alla terbilang mudah karena sebagian besar jalan sudah beraspal.
Meskipun masih terdapat jalan sepanjang 1 kilometer (km)  yang baru sampai pada tahap pengerasan.

Untuk rute perjalanannya yaitu dari Kota Masamba ke arah selatan Desa Pompaniki, Kecamatan Sabbang sekitar 28 km.

Jika dari Kota Palopo, ke arah utara sekita 36 Km atau setelah gapura selamat datang di Kabupaten Luwu Utara.

Sesampai di Desa Pompaniki, anda kemudian menuju Dusun Tonangka, Desa Kalotok yang berjarak sekitar 6 km dengan jalan beraspal. Dusun Tonangka bisa di akses dengan menggunakan roda empat dan dua.

Sampai di Dusun Tonangka atau tempat parkir mobil dan motor, anda lalu jalan kaki sejauh 150 meter menyusuri jalan setepak sebelum sampai di lokasi air terjun.

Salah satu petugas pengelola, Coki, pengunjung bisa mencapai 300  orang pada hari libur.

"Kam berharap pemerintah dapat memperhatikan saran yang sudah termakan usia,  seperti Gasebo, dan WC," ujarnya. (jsm)

Objek Wisata Sejarah Buntu Kamanre Luwu Terbengkalai

Objek Wisata Sejarah Buntu Kamanre Luwu Terbengkalai
Objek wisata yang terbengkalai di Luwu. 
LUWU, TEKAPE.co -- Objek wisata sejarah Buntu Kamanre, di Kelurahan Kamanre, Kecamatan Kamanre, Kabupaten Luwu, Sulsel, terbilang cukup populer dan sangat akrab di telinga warga Luwu. Sebab Buntu Kamanre ini merupakan tempat sakral yang menyimpan cerita dan kisah dari kebesaran Kerajaan Luwu pada masanya.

"Buntu Kamanre ini merupakan tempat tinggal Datu Kamanre. Ada bukti sejarah Datu Kamanre disana, terdapat kasur dari batu, sumur, dan kursi," ujar Tokoh Adat Kamanre, Andi Kaso Opu Salle.

Rasanya, belum lengkap jika berwisata ke Kabupaten Luwu, tanpa singgah ke Buntu Kamanre. Namun, beberapa tahun belakangan ini, objek wisata atau situs sejarah Luwu ini mulai terlupakan.

Padahal, kalau ingin dilihat terlebih bagi pencinta sejarah, akan banyak edukasi yang akan di dapat mengenai cerita sejarah terutama sejarah Datu Kamanre dan dapat melihat langsung berbagai bukti sejarah peninggalan Datu Kamanre.

Di bukit yang terletak di Kelurahan Kamanre ini, dahulu dipercaya sebagai tempat tinggal Datu Kamanre, tempat memimpin warga yang ada di sekitarnya pada masa kejayaannya.

Bukit dengan ketinggian kurang lebih 500 meter dari permukaan laut ini, sampai saat ini sebagian warga mempercayai bahwa tempat tersebut merupakan tempat yang sakral, serta serta tempat pertapaan untuk menenangkan pikiran.

Biasanya, pengunjung yang datang akan melakukan ritual ziarah ke makam karena diatas bukit tersebut terdapat salah satu makam pejuang yakni Andi Baso Luwu atau Opu Sanning.

"Di puncak Buntu Kamanre terdapat makam pejuang Luwu yakni Andi Baso Luwu," tutur Andi Kaso Opu Salle..

Eksotisme atau panorama alam Buntu Kamanre tidaklah kalah dengan destinasi wisata lain. Jikalau menuju ke tempat tersebut ratusan anak tangga telah menanti untuk dipijak.

Selain itu juga, ditumbuhi pepohonan yang rindang. Ketika berada di atas puncak bikit tersebut hamparan sawah telah menanti untuk dilihat dan kota Belopa.

Cukup mudah untuk menjangkau wisata Buntu Kamanre hanya butuh waktu 15 menit dari Kota Belopa. Sebab lokasinya berada hampir dekat Kota Belopa. Jarak yang ditempuh untuk ke tempat itu hanya sekitar 2 Km dari Cilallang, Jl Trans Sulawesi, Luwu.

Perjalanan bisa ditempuh dengan menggunakan kendaraan roda dua, bisa juga roda empat, menuju Buntu Kamanre. Memasuki kawasan bukit, pengunjung tidak dikenakan biaya apapun atau dengan kata lain gratis. (ilham)

Maccera Tasik, Wali Kota Palopo Ingin Warga Lebih Bersatu

Maccera Tasik, Wali Kota Palopo Ingin Warga Lebih Bersatu
PALOPO, TEKAPE.co - Pemerintah kota palopo bersama masyarakat nelayan menggelar ritual adat 'maccera tasi' di tempat pelelangan ikan (TPI) kota palopo, Senin 10 April 2017, dimana esensi dari kegiatan (maccera tasi') tersebut adalah wujud syukur atas peningkatan perekonomian nelayan.

Ketua Panitia Kegiatan, Moh Hatta Toparakassi, SH, MH, dalam laporannya menyampaikan bahwa syukuran pesta laut atau biasa disebut dalam bahasa masyarkat nelayan, maccera tasi’ adalah salah satu bagian elemen budaya peninggalan para leluhur yang menggambarkan keterkaitan hubungan baik antara umat manusia dengan yang maha pencipta maupun dengan seluruh mahluk hidup yang ada di alam.

Wali Kota Palopo, H Muhammad Judas Amir, kesempatan itu menyampaikan pentingnya kegiatan tersebut, karena pada acara itu diimplementasikan salah satu peraturan perundang-undangan, yakni bagaimana agar kita mengembangkan kebudayaan.

"Salah satu yang akan dicapai setelah berakhirnya kegiatan ini adalah bertambahnya persatuan diantara kita, satu dengan yang lain," ungkap wali kota.

Pada kesempatan itu juga, wali kota menyampaikan harapannya agar acara maccera tasi' tersebut menjadi agenda wisata, dan terkait itu, dirinya meminta agar dibuatkan regulasi khusus, baik petunjuk teknis dan waktu pelaksanaannya untuk kemudian disampaikan secara luas kepada masyarakat umum.

Pada pesta laut (maccera tasi') dan festival Tanjung ringgit itu, digelar juga berbagai lomba, yakni, lomba perahu hias, lomba rakki, lomba tangkap bebek, lomba bala-bala, lomba perahu dayung, lomba perahu jalloro, lomba panjat pinang di laut, lomba menyulam pukat, lomba memasukkan benang ke dalam sojo atau jarum, dan ada juga lomba menyambung tali.

Hadir juga pada kesempatan itu, Datu Luwu, Andi Maradang Mackulau Opu To Bau, bersama perangkat kedatuan, kepala Dinas kebudayaan dan kepariwisataan Provinsi Sulsel HA Musyafar Syah, Kepala unit kerja camat dan lurah lingkup pemkot palopo, serta masyarakat nelayan dan undangan lainnya. (hms)

Dipisah dari Pemangku Adat, Perahu Muspida Palopo Hanya Dihias Seadanya di Acara Maccera Tasik

Dipisah dari Pemangku Adat, Perahu Muspida Hanya Dihias Seadanya di Acara Maccera Tasik
Perahu yang ditumpangi wali kota Palopo. 
PALOPO, TEKAPE.co - Masyarakat Kota Palopo menggelar pesta laut 'Maccera Tasik' di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Kota Palopo, Sulsel, Senin 10 April 2017.

Dalam acara yang dihadiri pada pemangku adat dan unsur pemerintah tersebut, digelar lomba perahu hias dan ritual maccera tasik di tengah laut.

Ada dua pincara, atau perahu yang digabung lebih dari satu, yang disiapkan untuk ditumpangi rombongan pemangku adat dan unsur muspida. Namun pincara rombongan kedatuan dengan rombongan muspida Palopo, tampak jauh beda.

Pincara atau perahu rombongan pemangku adat, dihias dan dipenuhi makanan untuk ritual di tenngah laut. Dalam perahu tersebut, ada Datu Luwu H Maradang Mackulau, para pemangku adat, dan Ketua DPRD Palopo Harisal A Latief.

Sementara perahu muspida, hanya dihias seadanya. Hanya ada kursi plastik dan satu karpet biru. Dalam perahu tersebut ada Wali Kota Palopo H Muhammad Judas Amir, Kapolres Palopo AKBP Dudung Adijono, dan Sekkot Palopo H Jamaluddin Nuhung, serta ketua TP PKK Palopo Hj dr Utiasari Judas.

Perahu yang ditumpangi wali kota ini tidak sampai ke titik acara di tengah laut. Hanya setengah perjalanan, wali kota memerintahkan untuk balik arah dan pulang, dengan alasan ada acara yang harus diikuti.

Kadis Pariwisata Kota Palopo, Andi Nagauleng, yang dikonfirmasi, menyebutkan, perahu muspida dan pemangku adat dipisah. Hanya saja, ia mengaku telah meminta panitia untuk menghias sebagus mungkin  kedua perahu pincara itu. (del)
Dipisah dari Pemangku Adat, Perahu Muspida Hanya Dihias Seadanya di Acara Maccera Tasik
Perahu para pemangku adat. 

Pantai Labombo Bakal Siapkan Area Camping Bagi Suami Istri

Pantai Labombo Bakal Siapkan Area Camping Bagi Suami Istri
Pengunjung Pantai Labombo saat menikmati suasana pantai. 
PALOPO, TEKAPE.co - Untuk memikat para wisatawan, Pengelola Kawasan Wisata Alam Pantai Labombo, Kota Palopo, Sulsel, berencana akan menyiapkan area camping khusus bagi pasangan suami istri yang ingin menikmati malam di kawasan wisata Palopo tersebut.

Pengelola Pantai Labombo, Direktur CV Vista, Max Tarukallo, Sabtu 8 April, menuturkan, pihaknya berusaha untuk menarik perhatian para wisatawan, baik lokal maupun mancanegara. Salah satu yang dilakukan adalah akan menyiapkan area camping atau kemah.

"Kedepan, kami akan menyiapkan area camping. Bisa bawa sendiri tendanya, atau menyewa tenda yang kami siapkan," ujarnya.

Sementara itu, salah seorang pengunjung Pantai Labombo, Lilis Najwa, mengaku senang berkunjung di akhir pekan ke Pantai Labombo, karena ia melihat tempatnya nyaman dan bersih. (ilham)
Pantai Labombo Bakal Siapkan Area Camping Bagi Suami Istri

Terbaru

Recent Posts Widget