Select Menu

Headline

Politik

Metro

Hukrim

Peristiwa

Video

Religi

Alumni SMPN 1 Sabbang Pilih Reuni di Permandian Air Terjun Sarambualla

Alumni SMPN 1 Sabbang Pilih Reuni di Permandian Air Terjun Sarambualla
SABBANG, TEKAPE.co - Tak seperti kebanyakan reuni, alumni 2010 SMP Negeri 1 Sabbang Kabupaten Luwu Utara, memilih untuk reuni di wisata alam Permandian Air Terjun Sarambualla, Desa Kalotok, Kecamatan Sabbang, Sabtu 1 Juli 2017.

Ketua Panitia, Nahrul, menuturkan, pihaknya senggaja melakukan reuni disana, agar berbeda dengan yang lain. Selain melepas kangen, sekaligus juga melepas penat.

"Di samping kita bersilahturrahmi dengan teman lama, juga memperkenalkan kepada teman alumni keindahan alam dan jernihnya air terjun Sarambuallah, yang merupakan objek bisa bagian selatan Kabupaten Luwu Utara," ujarnya.

Selain melakukan reuni, mereka juga melakukan bakti sosial berupa pembersihan sampah di lokasi permandian. (jsm)

Intip Tenun Khas Rongkong Lutra yang Dikeramatkan

Intip Tenun Khas Rongkong Lutra yang Dikeramatkan
RONGKONG, TEKAPE.co - Tanah Rongkong, punya banyak daya tarik. Selain keindahan alamnya yang memesona, kecamatan yang tertinggal di Kabupaten Luwu Utara, Sulsel, ini juga dikenal punya budaya yang unik.

Rongkong berjuluk Tana Masakke ini, punya kain tenun warisan yang dikeramatkan dan disimpan selama berabad-abad. Kain tenunan hanya dikeluarkan pada waktu-waktu khusus.

Kain tenun ini biasanya dipaka untuk menghiasi upacara adat, dikenakan pendeta dari kepercayaan kuno dan para sesepuh, atau mendandani penari-penari yang menarikan tarian sakral, serta untuk menutupi jasad orang yang dihormati.

Sakralisasi terhadap warisan budaya semacam itu, juga dapat ditemui pada tenunan asal Rongkong, yang dikenal dengan nama 'kain roto' dan tenun ikat.

Kepala Desa Limbong, Tandi Sule, Sabtu 3 Juni, menjelaskan, penenun kain Roto kini hampir punah. Bisa dihitung jari. Penenunnya kini hanya ada di Kampung Salu Rante Rongkong dan di Salu Bulo Kota Palopo.

Ia menyebut, tenun ikat terdiri beberapa jenis. Antara lain Pori Lonjong, Pori Situtu', Sora' Langi', Tali Tau Batu, Rindun Lolodan Luna.

Tenun ikat juga diproduksi dalam berbagai jenis penggunaan. Misalnya, kain kafan, seremonial, rok wanita, syal, penutup kepala untuk upacara, dan menjadi pusaka keramat.

Kain Batik Rongkong sudah menjadi batik khas Pemerintah Kabupaten Luwu. (jsm)

Tak Sempat ke Bali? Eksotisme Pemandangan Ubud Juga Bisa Dinikmati di Rongkong Luwu Utara

Tak Sempat ke Bali? Eksotisme Pemandangan Ubud Juga Bisa Dinikmati di Rongkong Luwu Utara
Pemandangan di Rongkong, Luwu Utara. 
RONGKONG, TEKAPE.co - Jika di Pulau Bali ada destinasi agro wisata Ubud, di Desa Tegalalang, yang memanjakan para pelancong pemandangan persawahan penduduk setempat yang bertingkat-tingkat, atau terasering, maka di Rongkong, Luwu Utara, Sulsel, juga ada.

Warga Luwu Raya atau Sulawesi Selatan, sebetulnya tak perlu jauh-jauh ke Bali untuk melihat pemandangan yang tak kalah indahnya. Sebab di Kecamatan Rongkong Kabupaten Luwu Utara, anda akan menemui pemandangan yang eksotik serupa di Ubud Bali.

Persawahan model sengkedan layaknya di Ubud, bisa dijumpai hampir di semua desa di Rongkong, salah satunya di Desa Rinding Allo. Di kampung yang berjarak 64 kilometer dari Kota Masamba ini, mata anda akan dimanjakan dengan keelokan alamnya.

Meski berada di pelosok, tempat ini tetap bisa dijangkau menggunakan kendaraan roda dua dan roda empat. Berada di pegunungan dengan iklim tropis yang berhawa dingin, Rinding Allo  bisa disebut sebagai 'negeri' berselimut kabut, karena hampir sepanjang hari gumpalan kabut menutupi wilayah ini, yang diberi nama 'Surga di Balik Gunung.'

Dari keterangan warga desa setempat Jahir, jika perkampungan di Dusun Manganan sering disebut kampung hilang karena tak terlihat ketika diselimuti kabut.

Saat kabut menyelimuti kampung ini, jarak pandang hanya bisa mencapai sekitar lima meter. Suhu udara di dusun ini cukup dingin berkisar 19-20 derajat celcius dan berada di ketinggian 1.600 mdpl.

Di Rinding Allo, anda juga dapat menjumpai Anoa, hewan endemik Sulawesi, yang kini makin langka keberadaannya. Tercatat, berdasarkan data yang dirilis IUCN (International Union for the Conservation of Nature and Natural Resources), jumlahnya saat ini kurang dari 2500 ekor.

Hewan yang bernama latin Bubalus quarlesi ini sungguh susah ditemui. Anoa dikenal agresif dan sulit dijinakkan. Namun di Rinding Allo, ada dua Anoa ekor berusia 2 tahun yang sudah ditangkarkan oleh warga setempat.

Rongkong, Desa Rinding Allo  dinobatkan  sebagai wilayah ekowisata di Luwu Utara 'Surga Dibalik Gunung.' Pemandangan alam yang indah serta budaya dan adat istiadat warga di desa tersebut akan menjadi daya tarik bagi mereka yang mengunjunginya 'Tana Masakke' ini. (jsm)

Jelang Ramadan, Air Terjun Sarambualla Lutra Ramai Dikunjungi

Jelang Ramadan, Air Terjun Sarambualla Lutra Ramai Dikunjungi
MASAMBA, TEKAPE.co - Jelang memasuki bulan suci Ramadan, objek Wisata Air Terjun Sarambualla di Dusun Tonangka, Desa Kalotok, Kecamatan Sabbang, Kabupaten Luwu Utara, Sulsel, ramai dikunjungi warga dari berbagai daerah, Kamis 25 Mei 2017.

Pengunjung wisata air terjun dengan ketinggian 20 meter ini, didominasi wisatawan lokal.

Wisata ini menjadi primadona. Selain alamnya masih asri, juga menyediakan aneka buah pada musimnya seperti durian, langsat, dan rambutan.

Akses menuju ke Sarambu Alla terbilang mudah karena sebagian besar jalan sudah beraspal.
Meskipun masih terdapat jalan sepanjang 1 kilometer (km)  yang baru sampai pada tahap pengerasan.

Untuk rute perjalanannya yaitu dari Kota Masamba ke arah selatan Desa Pompaniki, Kecamatan Sabbang sekitar 28 km.

Jika dari Kota Palopo, ke arah utara sekita 36 Km atau setelah gapura selamat datang di Kabupaten Luwu Utara.

Sesampai di Desa Pompaniki, anda kemudian menuju Dusun Tonangka, Desa Kalotok yang berjarak sekitar 6 km dengan jalan beraspal. Dusun Tonangka bisa di akses dengan menggunakan roda empat dan dua.

Sampai di Dusun Tonangka atau tempat parkir mobil dan motor, anda lalu jalan kaki sejauh 150 meter menyusuri jalan setepak sebelum sampai di lokasi air terjun.

Salah satu petugas pengelola, Coki, pengunjung bisa mencapai 300  orang pada hari libur.

"Kam berharap pemerintah dapat memperhatikan saran yang sudah termakan usia,  seperti Gasebo, dan WC," ujarnya. (jsm)

Objek Wisata Sejarah Buntu Kamanre Luwu Terbengkalai

Objek Wisata Sejarah Buntu Kamanre Luwu Terbengkalai
Objek wisata yang terbengkalai di Luwu. 
LUWU, TEKAPE.co -- Objek wisata sejarah Buntu Kamanre, di Kelurahan Kamanre, Kecamatan Kamanre, Kabupaten Luwu, Sulsel, terbilang cukup populer dan sangat akrab di telinga warga Luwu. Sebab Buntu Kamanre ini merupakan tempat sakral yang menyimpan cerita dan kisah dari kebesaran Kerajaan Luwu pada masanya.

"Buntu Kamanre ini merupakan tempat tinggal Datu Kamanre. Ada bukti sejarah Datu Kamanre disana, terdapat kasur dari batu, sumur, dan kursi," ujar Tokoh Adat Kamanre, Andi Kaso Opu Salle.

Rasanya, belum lengkap jika berwisata ke Kabupaten Luwu, tanpa singgah ke Buntu Kamanre. Namun, beberapa tahun belakangan ini, objek wisata atau situs sejarah Luwu ini mulai terlupakan.

Padahal, kalau ingin dilihat terlebih bagi pencinta sejarah, akan banyak edukasi yang akan di dapat mengenai cerita sejarah terutama sejarah Datu Kamanre dan dapat melihat langsung berbagai bukti sejarah peninggalan Datu Kamanre.

Di bukit yang terletak di Kelurahan Kamanre ini, dahulu dipercaya sebagai tempat tinggal Datu Kamanre, tempat memimpin warga yang ada di sekitarnya pada masa kejayaannya.

Bukit dengan ketinggian kurang lebih 500 meter dari permukaan laut ini, sampai saat ini sebagian warga mempercayai bahwa tempat tersebut merupakan tempat yang sakral, serta serta tempat pertapaan untuk menenangkan pikiran.

Biasanya, pengunjung yang datang akan melakukan ritual ziarah ke makam karena diatas bukit tersebut terdapat salah satu makam pejuang yakni Andi Baso Luwu atau Opu Sanning.

"Di puncak Buntu Kamanre terdapat makam pejuang Luwu yakni Andi Baso Luwu," tutur Andi Kaso Opu Salle..

Eksotisme atau panorama alam Buntu Kamanre tidaklah kalah dengan destinasi wisata lain. Jikalau menuju ke tempat tersebut ratusan anak tangga telah menanti untuk dipijak.

Selain itu juga, ditumbuhi pepohonan yang rindang. Ketika berada di atas puncak bikit tersebut hamparan sawah telah menanti untuk dilihat dan kota Belopa.

Cukup mudah untuk menjangkau wisata Buntu Kamanre hanya butuh waktu 15 menit dari Kota Belopa. Sebab lokasinya berada hampir dekat Kota Belopa. Jarak yang ditempuh untuk ke tempat itu hanya sekitar 2 Km dari Cilallang, Jl Trans Sulawesi, Luwu.

Perjalanan bisa ditempuh dengan menggunakan kendaraan roda dua, bisa juga roda empat, menuju Buntu Kamanre. Memasuki kawasan bukit, pengunjung tidak dikenakan biaya apapun atau dengan kata lain gratis. (ilham)

Maccera Tasik, Wali Kota Palopo Ingin Warga Lebih Bersatu

Maccera Tasik, Wali Kota Palopo Ingin Warga Lebih Bersatu
PALOPO, TEKAPE.co - Pemerintah kota palopo bersama masyarakat nelayan menggelar ritual adat 'maccera tasi' di tempat pelelangan ikan (TPI) kota palopo, Senin 10 April 2017, dimana esensi dari kegiatan (maccera tasi') tersebut adalah wujud syukur atas peningkatan perekonomian nelayan.

Ketua Panitia Kegiatan, Moh Hatta Toparakassi, SH, MH, dalam laporannya menyampaikan bahwa syukuran pesta laut atau biasa disebut dalam bahasa masyarkat nelayan, maccera tasi’ adalah salah satu bagian elemen budaya peninggalan para leluhur yang menggambarkan keterkaitan hubungan baik antara umat manusia dengan yang maha pencipta maupun dengan seluruh mahluk hidup yang ada di alam.

Wali Kota Palopo, H Muhammad Judas Amir, kesempatan itu menyampaikan pentingnya kegiatan tersebut, karena pada acara itu diimplementasikan salah satu peraturan perundang-undangan, yakni bagaimana agar kita mengembangkan kebudayaan.

"Salah satu yang akan dicapai setelah berakhirnya kegiatan ini adalah bertambahnya persatuan diantara kita, satu dengan yang lain," ungkap wali kota.

Pada kesempatan itu juga, wali kota menyampaikan harapannya agar acara maccera tasi' tersebut menjadi agenda wisata, dan terkait itu, dirinya meminta agar dibuatkan regulasi khusus, baik petunjuk teknis dan waktu pelaksanaannya untuk kemudian disampaikan secara luas kepada masyarakat umum.

Pada pesta laut (maccera tasi') dan festival Tanjung ringgit itu, digelar juga berbagai lomba, yakni, lomba perahu hias, lomba rakki, lomba tangkap bebek, lomba bala-bala, lomba perahu dayung, lomba perahu jalloro, lomba panjat pinang di laut, lomba menyulam pukat, lomba memasukkan benang ke dalam sojo atau jarum, dan ada juga lomba menyambung tali.

Hadir juga pada kesempatan itu, Datu Luwu, Andi Maradang Mackulau Opu To Bau, bersama perangkat kedatuan, kepala Dinas kebudayaan dan kepariwisataan Provinsi Sulsel HA Musyafar Syah, Kepala unit kerja camat dan lurah lingkup pemkot palopo, serta masyarakat nelayan dan undangan lainnya. (hms)

Dipisah dari Pemangku Adat, Perahu Muspida Palopo Hanya Dihias Seadanya di Acara Maccera Tasik

Dipisah dari Pemangku Adat, Perahu Muspida Hanya Dihias Seadanya di Acara Maccera Tasik
Perahu yang ditumpangi wali kota Palopo. 
PALOPO, TEKAPE.co - Masyarakat Kota Palopo menggelar pesta laut 'Maccera Tasik' di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Kota Palopo, Sulsel, Senin 10 April 2017.

Dalam acara yang dihadiri pada pemangku adat dan unsur pemerintah tersebut, digelar lomba perahu hias dan ritual maccera tasik di tengah laut.

Ada dua pincara, atau perahu yang digabung lebih dari satu, yang disiapkan untuk ditumpangi rombongan pemangku adat dan unsur muspida. Namun pincara rombongan kedatuan dengan rombongan muspida Palopo, tampak jauh beda.

Pincara atau perahu rombongan pemangku adat, dihias dan dipenuhi makanan untuk ritual di tenngah laut. Dalam perahu tersebut, ada Datu Luwu H Maradang Mackulau, para pemangku adat, dan Ketua DPRD Palopo Harisal A Latief.

Sementara perahu muspida, hanya dihias seadanya. Hanya ada kursi plastik dan satu karpet biru. Dalam perahu tersebut ada Wali Kota Palopo H Muhammad Judas Amir, Kapolres Palopo AKBP Dudung Adijono, dan Sekkot Palopo H Jamaluddin Nuhung, serta ketua TP PKK Palopo Hj dr Utiasari Judas.

Perahu yang ditumpangi wali kota ini tidak sampai ke titik acara di tengah laut. Hanya setengah perjalanan, wali kota memerintahkan untuk balik arah dan pulang, dengan alasan ada acara yang harus diikuti.

Kadis Pariwisata Kota Palopo, Andi Nagauleng, yang dikonfirmasi, menyebutkan, perahu muspida dan pemangku adat dipisah. Hanya saja, ia mengaku telah meminta panitia untuk menghias sebagus mungkin  kedua perahu pincara itu. (del)
Dipisah dari Pemangku Adat, Perahu Muspida Hanya Dihias Seadanya di Acara Maccera Tasik
Perahu para pemangku adat. 

Pantai Labombo Bakal Siapkan Area Camping Bagi Suami Istri

Pantai Labombo Bakal Siapkan Area Camping Bagi Suami Istri
Pengunjung Pantai Labombo saat menikmati suasana pantai. 
PALOPO, TEKAPE.co - Untuk memikat para wisatawan, Pengelola Kawasan Wisata Alam Pantai Labombo, Kota Palopo, Sulsel, berencana akan menyiapkan area camping khusus bagi pasangan suami istri yang ingin menikmati malam di kawasan wisata Palopo tersebut.

Pengelola Pantai Labombo, Direktur CV Vista, Max Tarukallo, Sabtu 8 April, menuturkan, pihaknya berusaha untuk menarik perhatian para wisatawan, baik lokal maupun mancanegara. Salah satu yang dilakukan adalah akan menyiapkan area camping atau kemah.

"Kedepan, kami akan menyiapkan area camping. Bisa bawa sendiri tendanya, atau menyewa tenda yang kami siapkan," ujarnya.

Sementara itu, salah seorang pengunjung Pantai Labombo, Lilis Najwa, mengaku senang berkunjung di akhir pekan ke Pantai Labombo, karena ia melihat tempatnya nyaman dan bersih. (ilham)
Pantai Labombo Bakal Siapkan Area Camping Bagi Suami Istri

Coba Wisata Lereng Cinta, Ada Tempat Khusus 'Nembak' Wanita Pujaan

Coba Wisata Lereng Cinta, Ada Tempat Khusus 'Nembak' Wanita Pujaan
PALOPO, TEKAPE.co - Destinasi wisata di Kota Palopo kembali bertambah. Kini ada objek wisata baru bernama 'Lereng Cinta' di Kelurahan Mawa, Kecamatan Sendana, Kota Palopo.

Disana ada destinasi wisata berkonsep cinta, yang dibangun Wakapolres Palopo Kompol Woro Susilo. Hanya sekitar 10 menit dari pusat Kota Palopo untuk sampai ke lokasi tersebut.

Namun untuk sampai kesana, saat ini jalanan masih belum memadai. Masih ada sekitar 1 km jalan yang belum dipengerasan. Masih tanah dan licin kalau baru selesai hujan.

Jika hendak ke objek wisata baru ini, dibutuhkan stamina yang lumayan. Pasalnya, objek wisata yang terjal, harus mendaki ke atas puncak, baru bisa menikmati pemandangan yang luar biasa.

Objek wisata baru ini baru soft opening, Kamis 6 April 2017. Untuk masuk ke lokasi ini, dikenakan tarif masuk sebesar Rp8.000 per orang.

Kebun yang disulap jadi objek wisata ini cukup menarik. Lokasi seluas 1,5 hektar ini didesain dengan konsep cinta. Itulah sebabnya disebut 'Lereng Cinta'. "Ini dinamakan 'Lereng Cinta' karena konsepnya yang desain penuh dengan nuangsa cinta," ujar pemilik objek wisata ini, Woro Susilo.

Coba Wisata Lereng Cinta, Ada Tempat Khusus 'Nembak' Wanita Pujaan
Di lokasi ini, cukup lengkap. Ada taman cinta, kampung cinta, cafe, flying fox, dermaga cinta, dan banyak lagi. Juga ada spot untuk selfie bertuliskan 'LOVE' dan 'Tembak Aku Disini'.

Di kampung cinta, ada banyak tenda dengan berbagai macam jenis cinta. Seperti cinta tak bersyarat, cinta monyet, cinta segi tiga, cinta pandangan pertama, dan masih banyak lagi.

Jika Anda ingin melihat view Kota Palopo dengan pemandangan yang menakjubkan, anda bisa ke puncak Lereng Cinta. Disana ada dermaga biru yang sangat cocok untuk memandang Kota Palopo sampai ke Bua, dari jauh.

View seperti ini lebih indah di banding pemandangan di bukit Kambo. Sebab pandangan agak lebih dekat. Namun untuk sampai ke puncak Lereng Cinta, dibutuhkan stamina yang kuat. Sebab harus melalui pendakian yang terjal. Hanya saja, jalanannya cukup bagus. (del)


Coba Wisata Lereng Cinta, Ada Tempat Khusus 'Nembak' Wanita Pujaan

Coba Wisata Lereng Cinta, Ada Tempat Khusus 'Nembak' Wanita Pujaan

Wisata Suara Alam Religi, Sul Arrahman Akan Buat Film Dokumenter Wisata Luwu


Wisata Suara Alam Religi, Sul Arrahman Akan Buat Film Dokumenter Wisata Luwu
LUWU, TEKAPE.co -- Hari libur, Sul Arahman beserta keluarga, dan Komunitas Sul Arrahman (Suara) Kabupaten Luwu, berwisata di Sungai Rante Balla, Desa To Barru, Kecamatan Latimojong, Kabupaten Luwu.

Wisata Suara Alam Religi, sengaja memilih sungai sebagai objek yang dituju karena suasana sungai dengan arus deras berbatu membuat sensasi sungai semakin memacu adrenaline dan cocok dijadikan tempat arum jeram.

Selain itu, kunjungan ini juga untuk memantau aktivitas warga, serta komuditas alam yang di kelola masyarakat sekitaran Latimojong, Selasa, 28 Maret 2017.

Selain itu, kunjungan ke tempat wisata ini, Sul Arahman yang merupakan Bakal Calon Bupati Luwu 2018, yang juga Anggota DPRD Luwu, mengatakan, pihaknya sengaja melakukan refresing di Wilayah Latimojong,  untuk melihat potensi wisata yang ada di Luwu.

Disisi lain, Seluruh tempat yang memiliki potensi wisata di Luwu, akan didata untuk diusulkan agar dilakukan pengembangan kedepannya.

"Kami ingin mendata segala potensi wisata yang ada, dan akan diusulkan ke Pemda Luwu untuk dilakukan pengembangan," tuturnya.

Selain itu, ia juga berinisiatif akan membuat film dokumenter untuk mengeksplor tempat wisata yang ada di Kabupaten Luwu. Wisata di Luwu tidak kalah dengan tempat wisata yang ada di daerah lain.

Hal tersebut dilakukan untuk meningkatkan potensi wisata Luwu dan meningkatkan pendapatan masyarakat di Kabupaten Luwu.

"Semakin banyak tempat wisata yang dikembangkan di Luwu, maka akan semakin membuka mata pencaharian warga," ujar Sul Arrahman. (Ilham)

Gelar Wisata Religi di Rante Balla, Karang Taruna Siap Promosikan Pariwisata Luwu


Gelar Wisata Religi di Rante Balla, Karang Taruna Siap Promosikan Pariwisata Luwu
Anggota Karang Taruna Luwu saat berwisata di Rante Balla. 
LUWU, TEKAPE.co - Pengurus Karang Taruna (KT) Luwu, melakukan wisata religi di Sungai Rante Balla, Desa To'barru, Kecamatan Latimojong, Kabupaten Luwu, Sulsel, Selasa 28 Maret 2017.

Pengurus KT Luwu sengaja memilih Sungai Rante melakukan wisata religi, karena sungai dengan arus deras dan berbatu itu, bisa semakin memacu adrenaline untuk melakukan kegiatan arum jeram.

Ketua KT Luwu, Sul Arrahman, mengatakan, pihaknya sengaja melakukan wisata religi di sungai, sekaligus untuk melihat potensi - potensi wisata yang ada di Luwu.

Seluruh tempat - tempat yang memiliki potensi wisata di Luwu, akan didata untuk diusulkan dilakukan pengembangan kedepannya.

"Kami ingin mendata segala potensi wisata yang ada, dan akan diusulkan ke Pemda Luwu untuk dilakukan pengembangan," ujar Sul Arrahman yang juga anggota DPRD Luwu.

Setelah mendata potensi wisata di Luwu, pihaknya berencana membuatkan film dokumenter, untuk semua tempat wisata alam di Luwu, yang masih belum disentuh pihak pemerintah.

Sehingga kedepannya, Luwu bukan hanya dikenal dengan potensi pertanian, seperti coklat, kopi, durian, melainkan juga bisa dikenal dengan potensi wisatanya.

Meningkatnya potensi wisata Luwu, juga akan berdampak pada peningkatan penghasilan masyarakat setempat.

"Semakin banyak tempat wisata yang dikembangkan di Luwu, maka akan semakin membuka mata pencaharian warga, khususnya pedagang kaki lima," tambah Sul Arrahman. (Rilis)

Pakaian Pengantin Asli Luwu Diperkenalkan di Festival Kota Pusaka

Pakaian Pengantin Asli Luwu Diperkenalkan di Festival Kota Pusaka
Sepasang pengantin dengan pekaian pengantin khas asli dari Tana Luwu pada karnaval budaya penutupan FKP. (ft:hms-hendra)
PALOPO, TEKAPE.co - Pakaian dan cara mengenakan pakaian pengantin di Tana Luwu pada khususnya, dipercaya sudah banyak dipadukan dengan budaya lain.

Sudah sangat jarang dijumpai pakaian orisinil, yang benar-benar mengenakan pakaian pengantin asli Tana Luwu.

Pada Festival Kota Pusaka (FKP) Palopo yang ditutup secara resmi oleh Wali Kota Palopo H Muhammad Judas Amir, yang diwakili Asisten I Burhan Nurdin, Ahad malam, 19 Maret 2017, di kawasan Lalebata, depan rujab Wakil Wali Kota Palopo, diperkenalkan sejumlah pakaian adat, yang salah satunya pakaian pengantin asli Tana Luwu.

Pengenalan itu dilakukan saat karnaval budaya, yang menampilkan pakaian pengantin. Mulai dari pakaian pengantin asli Luwu, dan pakaian pengantin yang telah bertransformasi atau bercampur baur dengan budaya lain.

Menurut narator saat penutupan, Afif Hamka, menjelaskan, salah satu ciri yang bisa dilihat adalah aksesoris kepala pada laki-laki dan pengantin perempuan.

Aksesoris kopiah pengantin laki-laki yang selama ini ditemui tonjolannya di bagian depan, namun pakaian pengantin asli Luwu, tonjolannya diletakkan di samping.

"Untuk pengantin perempuan, orang Luwu tidak memakai konde, hanya pengikat ramput," jelasnya.

Ia juga banyak menjelaskan beragam hal terkait masalah ciri khas pengantin asli Luwu.

Selain itu, karnaval budaya pada penutupan ini, juga menampilkan pakaian kebesaran dari beragam etnis yang ada di Kota Palopo, diantaranya Toraja, Jawa, Bali, hingga etnis Tionghoa.

Pada penutupan tersebut, Burhan Nurdin, mengharapkan agar event tahun depan bisa lebih semarak dan meriah lagi. Ia mendukung event ini bisa jadi event tahunan, dengan harapan generasi muda Palopo lebih mengenal budaya leluhurnya.

"Semoga tahun depan, event seperti ini bisa lebih semarak dan menambah kecintaan kita kepada budaya dan adat istiadat kita di Tana Luwu ini," harapnya. (del)

Ada Alquran Simbol Tellumpoccoe Dipamerkan di Festival Kota Pusaka Palopo

Ada Alquran Simbol Tellumpoccoe Dipamerkan di Festival Kota Pusaka Palopo
Alquran tempo dulu yang dipamerkan di Palopo. 
PALOPO, TEKAPE.co - Sejumlah benda-benda jadul (jaman dulu) dipamerkan di Festival Kota Pusaka (FKP) Palopo, 17-19 Maret 2017, di Gedung Saodenrae Convention Centre (SCC) Kota Palopo.

Salah satu benda jadul tersebut adalah Alquran berusia ratusan tahun, yang ditulis tangan, yang disebut-sebut sebagai simbol pemersatu Tellumpoccoe, sebutan tiga kerajaan besar di Sulsel, yakni Luwu, Gowa, dan Bone.

Datu Luwu H Andi Maradang Mackulau Opu To Bau, saat pembukaan, menyebutkan, Alquran tersebut adalah simbol Tellumpoccoe, hanya ada tiga di Sulsel, yakni di Luwu, Gowa, dan Bone.

Selain itu, ada juga benda jadul berupa buku-buku peninggalan Belanda, benda pusaka, dan foto-foto jadul.

Pengunjung juga bisa mengintip sejarah Tana Luwu dan lukisan pada seniman lokal yang luar biasa.

Selain pameran, ada juga sejumlah lomba dengan hadiah puluhan juga. Salah satunya lomba foto cagar budaya atau benda pusaka, yang siapa saja bisa berpartisipasi. (del)

Ayo ke Palopo! Saksikan 'Palopo Tempo Dulu' di Festival Kota Pusaka

Ayo ke Palopo! Saksikan 'Palopo Tempo Dulu' di Festival Kota Pusaka
Jumpa pers penyelenggara Festival Kota Pusaka, di Enzyme Cafe Palopo, Selasa malam. 
PALOPO, TEKAPE.co - Pemerintah Kota Palopo akan menggelar Festival Kota Pusaka (FKP) Palopo, di kawasan Lalebbata atau tepatnya di SaodenraE Convention Center (SCC) Palopo, 17-19 Maret 2017.

Dalam festival kali ini, akan dikemas dalam tajuk 'Palopo Tempo Dulu' dengan kesan klasik dan tradisional. Festival ini diyaikini bakal menarik perhatian wisatawan untuk berkunjung ke Kota Palopo.

Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Palopo, Firmanza DP mengatakan festival ini digelar sebagai upaya pemerintah menyosialisasikan Program Penataan dan Pelestarian Kota Pusaka (P3KP), dimana Kota Palopo menjadi daerah pertama di Sulawesi Selatan, yang ditunjuk oleh Kementerian PU dan Perumahan Rakyat RI sebagai daerah Kota Pusaka.

“Hingga saat ini Palopo masih menjadi satu-satunya daerah di Sulawesi Selatan yang mendapatkan program ini dari Pemerintah Pusat. Kami berharap dengan adanya penyelenggaraan FKP Palopo ini, daya tarik Palopo sebagai kota tujuan wisata dapat lebih terwujud,” ujar Firmanza.

Ketua Panitia Pelaksana, Erdin mengatakan sejumlah kegiatan akan digelar dalam FKP Palopo 2017 ini, seperti Pameran Foto dengan tema Kota Palopo tempo dulu, pameran lukisan dan benda jadul, pasar seni kreatif, massure’, heritage tour, dan Parade Budaya.

“Beberapa item kegiatan yang menarik untuk diikuti seperti Heritage Tour, yakni pihak pelaksana akan memberikan edukasi kepada siswa terkait tempat-tempat yang memiliki sejarah di Kota Palopo, juga kegiatan Parade Budaya yang akan menampilkan parade busana masyarakat kota Palopo, tidak hanya berupa pakaian adat, namun juga style busana masyarakat dari masa ke masa,” ujar Erdin. (rilis)

Menikmati Panorama Malam di Ketinggian Gunung Galumpang Palopo

Menikmati Panorama Malam di Ketinggian Gunung Galumpang Palopo
Sejumlah warga sedang menikmati pemandangan dari ketinggian Gunung Galumpang, Palopo, pada malam hari. 
PALOPO, TEKAPE.co - Kerlap-kerlip lampu dari kejauhan menjadi daya tarik tersendiri di ketinggian Gunung Galumpang, Kelurahan Peta, Kecamatan Sendana Kota Palopo, Sulsel.

Panorama indahnya cahaya lampu malam dari ketinggian Gunung Galumpang itu, kini mulai dikunjungi masyarakat.

Sambil menikmati sarabba dan secangkir kopi, bisa menghangatkan tubuh di wilayah pegunungan, sampai menikmati pemandangan malam dari ketinggian.

Lurah Peta Baslan SIp, menuturkan, keindahan cahaya lampu pada malam hari dari Gunung Galumpang, sudah mulai dikunjungi warga Palopo dan sekitarnya.

"Ada spot khusus yang bisa sambil duduk santai, kita memandang dari kejauhan, kerlap-kerlip lampu di wilayah perkotaan Palopo di malam hari. Tempat ini mulai dikunjungi warga," ujarnya.

Sementara untuk siang hari, dari ketinggian Gunung Galumpang itu, dapat memandang keindahan laut dan jejeran bangunan di wilayah Kota Palopo. (dar)

Let's Picnic, Semalam Camping di Labombo

Let's Picnic, Semalam Camping di Labombo
PALOPO, TEKAPE.co --- Peserta event Let's Picnic 2016 akan menikmati dinginnya udara dan hembusan angin Pantai Labombo selama satu malam, 1-2 Oktober 2016.

Ketua Panitia Pelaksana, Arga, menjelaskan, event ini adalah kegiatan relaksasi akhir pekan dengan memilih lokasi terbuka (outdoor). Menyatukan berbagai maksud dan tujuan didalamnya tentang pengembangan kawasan wisata, pemberdayaan pemuda. Selain itu, juga untuk mengangkat semangat lokal, serta menggairahkan dunia seni dan budaya.

"Berbagai macam suguhan acara menarik yang kami siapkan, yakni ada tari tradisional, teater, pemutaran film, kolaborasi seni, musik, makan malam, kemah, pelepasan lampion terbang dan lampion air. Ada juga sante-sante menikmati hammock, dan di akhir aca ada bakti sosial," rincinya.

Untuk mendukung kenyamanan di lokasi, panitia menyediakan special booth untuk food, drink, clothing, art and book, yang disajikan oleh Kopiapi, Kolong, Rabbids Solata Cafe, Merica, Luscioustea, Sugi Art, Sketsa Type, Infectious, dan Rumah Baca Bamba.

Untuk itu, panitia juga menyiapkan tiga paket pilihan, yakni untuk paket VIP dibanderol seharga Rp300 ribu untuk tiga orang, tenda, sarapan pagi, lampion, sarabba, dan ubi goreng.

Kemudian ada paket B dengan harga tiket Rp200 ribu, untuk 3 orang, inklud tikar, lampion, sarabba, dan ubi goreng. Sedangkan untuk paket C hanya Rp80 ribu untuk satu orang ditambah tikar dan lampion.

"Untuk mendapatkan tiketnya, bisa diperoleh di Rabbids, Solata Cafe, dan Merica. Khusus untuk wilayah Palopo, bisa langsung diantarkan," jelas Arga.

Mari nyalakan lilin untuk malam yang sederhana, Mari nikmati pagi dengan alam yang seharusnya terjaga oleh penghuninya. (rilis)

VIDEO: Pemeran Film Uang Panai, Tumming dan Abu Ajak Anda ke Labombo Beach

VIDEO: Pemeran Film Uang Panai, Tumming dan Abu Ajak Anda ke Labombo Beach
PALOPO, TEKAPE.co --- Dalam rangka menggairahkan pariwisata Kota Palopo, kelompok anak muda Palopo dari beberapa komunitas menggelar event bertajuk Let's Picnic 2016 at Labombo Beach, Palopo, 1-2 Oktober 2016.

Ketua Panitia Pelaksana, Arga, menyebutkan, event ini sudah tahun kedua dilaksanakan di Pantai Labombo Kota Palopo. Menurutnya, event ini digelar untuk menggairahkan pariwisata di Kota Palopo dan sekaligus memberdayakan para pemuda di kota ini.

"Dalam acara ini nanti, akan ada acara music, camping, night dinner, traditional dance, theater, movie night, sky lantern, art, dan social service. Untuk ikut di event ini, kami menyediakan tiga paket, yakni paket VIP, paket B, dan paket C," jelasnya, Sabtu malam, 10 September 2016.

Ia menjelaskan, event ini akan dimulai sore, 1 Oktober dan bermalam di dalam pantai. Panitia telah menyiapkan tenda untuk camping. Terkait fasilitas, tergantung pilihan paket yang dipilih.

Event ini juga mendapat testimoni dari Pemeran film Uang Panai, Tumming dan Abu. Dua aktor kocak ini juga mengajak Anda untuk mengikuti event Let's Picnic 2016 di Pantai Labombo Palopo, 1-2 Oktober 2016. Berikut videonya. (del)


Terbaru

Recent Posts Widget